Hadits Keutamaan Surat Al-Fatihah

Hadis tentang keutamaan Al-Quran  surat Al Fatihah:

1) حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ وَأَحْمَدُ بْنُ جَوَّاسٍ الْحَنْفِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ عَمَّارِ بْنِ  رُزَيْقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
 بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Rabii’ dan Ahmad bin Jawwaas Al-Hanafiy, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash, dari ‘Ammaar bin Ruzaiq, dari ‘Abdullaah bin ‘Iisaa, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, ketika Jibriil sedang duduk di sisi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, terdengarlah suara dari arah atas dan ia mendongakkan kepalanya, Jibriil berkata, “Ini adalah suara pintu langit dibuka pada hari ini setelah sebelumnya ia tidak pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini.” Maka turunlah malaikat darinya. Jibriil berkata, “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi setelah sebelumnya ia tidak pernah turun sama sekali kecuali pada hari ini.” Lalu (malaikat tersebut) memberi salam dan berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu yang sebelumnya ia tidak pernah diberikan kepada seorangpun Nabi sebelummu, (yaitu) pembuka Kitab (Surat Al-Faatihah) dan penutup surat Al-Baqarah, tidaklah engkau membaca satu huruf pun (dari keduanya) kecuali cahaya tersebut akan diberikan kepadamu.”
[Shahiih Muslim no. 809; Sunan An-Nasaa’iy no. 912]

2) حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدَ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَهِيَ مَقْسُومَةٌ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Huraits, telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Muusaa, dari ‘Abdul Hamiid bin Ja’far, dari Al-‘Alaa’ bin ‘Abdurrahman, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Ubay bin Ka’b -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah tidaklah menurunkan pada Taurat dan tidak juga pada Injil semisal Ummul Qur’an (Surat Al-Faatihah), dia adalah As-Sab’ul Matsaaniy (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan dia terbagi diantara Aku dan hambaKu, dan untuk hambaKu apa yang diminta.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 3125; Sunan An-Nasaa’iy no. 914; Musnad Ahmad no. 20589] – Shahih. Dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah dalam Shahiihul Jaami’ no. 5560. Lihat juga ‘Umdatut Tafsiir 1/51 karya Syaikh Ahmad Syaakir rahimahullah.

3) حَدَّثَنَاه إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ
{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ
{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ
{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }
قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ
{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }
قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ
{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }
قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim Al-Hanzhaliy, telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan bin ‘Uyainah, dari Al-‘Alaa’, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang shalat namun dalam shalatnya tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Faatihah), maka shalatnya ada yang kurang, tidak sempurna -tiga kali-.” Ditanyakan kepada Abu Hurairah, “(Walaupun) Kami berada di belakang Imam?” Abu Hurairah menjawab, “Bacalah ia sendiri-sendiri karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Aku membagi shalat antara Aku dan hambaKu separuh bagian, dan untuk hambaKu apa yang diminta, maka jika hamba berkata, “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin,” Allah Ta’ala berfirman, “HambaKu memujiKu.” Jika hamba berkata, “Ar-rahmanirrahim,” Allah Ta’ala berfirman, “HambaKu memujiKu.” Jika hamba berkata, “Maaliki yaumiddiin,” Allah Ta’ala berfirman, “HambaKu memuliakanKu,” dan Dia berfirman, “HambaKu berserah diri kepadaKu.” Jika hamba berkata, “Iyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,” Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara Aku dan hambaKu, dan untuk hambaKu apa yang diminta.” Jika hamba berkata, “Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladhdhaalliin, ” Allah berfirman, “Ini untuk hambaKu dan untuk hambaKu apa yang diminta.”
[Shahiih Muslim no. 396; dan diriwayatkan oleh Ashhaabus Sunan]

4) حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا وَهْبٌ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ مَعْبَدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
كُنَّا فِي مَسِيرٍ لَنَا فَنَزَلْنَا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ فَقَالَتْ إِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ سَلِيمٌ وَإِنَّ نَفَرَنَا غَيْبٌ فَهَلْ مِنْكُمْ رَاقٍ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مَا كُنَّا نَأْبُنُهُ بِرُقْيَةٍ فَرَقَاهُ فَبَرَأَ فَأَمَرَ لَهُ بِثَلَاثِينَ شَاةً وَسَقَانَا لَبَنًا فَلَمَّا رَجَعَ قُلْنَا لَهُ أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً أَوْ كُنْتَ تَرْقِي قَالَ لَا مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْكِتَابِ قُلْنَا لَا تُحْدِثُوا شَيْئًا حَتَّى نَأْتِيَ أَوْ نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَاهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Mutsannaa, telah menceritakan kepada kami Wahb, telah menceritakan kepada kami Hisyaam, dari Muhammad, dari Ma’bad, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, kami sedang dalam perjalanan kemudian kami singgah di suatu tempat, lalu datanglah seorang jariyah, ia berkata, “Sesungguhnya kepala desa kami sedang sakit sementara orang-orang kami sedang tidak ada, apakah diantara kalian bisa meruqyah?” Maka berdirilah seorang laki-laki bersamaan dengannya dan kami tidak pernah mengetahui bahwa ia bisa meruqyah. Kemudian laki-laki itu meruqyah kepala desa tersebut dan ternyata ia sembuh, kepala desa memerintahkan agar laki-laki itu diberi tiga puluh kambing dan kami dijamu dengan susu. Ketika kami kembali, kami bertanya kepadanya, “Apakah kau memang baik dalam meruqyah ataukah kau ini memang seorang peruqyah?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan Ummul Kitaab.” Kami berkata, “Janganlah kalian berbicara sesuatupun hingga kami bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam.” Ketika kami tiba di Madinah, kami menceritakan hal tersebut kepada beliau, beliau bersabda, “Darimana kalian mengetahui bahwasanya ia (Al-Faatihah) bisa untuk meruqyah? Bagikan kemari kambing tersebut dan hendaknya aku ikut dibagi.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 5007; Shahiih Muslim no. 2203]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel