Proses Wahyu Turun Pertama (Hadits)

Wahyu Diturunkan Pertama Kali (Hadits)

Sakaran - Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas rahmat dan karunianya yang telah dilimpahkan kepada kita semua. Karena dengan rahmat dan karunia serta nikmat-Nya, saat ini kita masih bisa menulis dan membaca blog. Sedikit kami akan refreshing ingatan hadits kita dengan hadits yang menerangkan kisah pertama kali wahyu diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira.

Berikut ini adalah sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang mengkisahkan Nabi SAW menerima wahyu untuk pertama kali:

Dari Aisyah Ummu Al Mukminin, dia mengatakan, "Hal pertama dimulainya wahyu kepada Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar dalam tidur. Maka beliau tidak melihat mimpi kecuali terjadi seperti itu ketika pagi. Kemudian beliau senang untuk menyendiri dan ketika itu beliau menyendiri di Gua Hira', maka beliau ber-tahanuts disana -yaitu beribadah beberapa malam yang banyak- sebelum kembali kepada keluarganya, dan beliau membawa bekal untuk itu, kemudian beliau pulang kepada Khadijah, maka beliau mengambil bekal untuk seperti itu, hingga datanglah kebenaran kepadanya, dan beliau sedang berada di Gua Hira'. Maka datanglah seorang malaikat, dan dia berkata, "Bacalah!"
Beliau berkata, "Aku tidak bisa membaca."
Beliau mengatakan, "Kemudian dia merengkuhku dan menutupiku hingga aku terengah engah, kemudian dia melepaskan aku, dan berkata, "Bacalah."
Aku pun berkata, "Aku tidak bisa membaca."
Kemudian dia merengkuhku dan menutupiku lagi hingga aku terengah engah kemudian dia melepaskan aku, dan berkata, "Bacalah."
Maka aku pun berkata, "Aku tidak bisa membaca."
Maka dia merengkuh dan menutupiku ketiga kali kemudian melepaskanku, lalu berkata, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah, (Yang mengajar (manusia) dengan perantaan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.)" (QS. Al 'Alaq: 1-5)
Maka beliau pulang ke rumah dalam keadaan ketakutan, lalu menemui Khadijah binti Khuwailid dan berkata, "Selimutilah aku, selimutilah aku."
Dan dia pun menyelimuti beliau hingga hilanglah ketakutan dari beliau. Kemudian berkata kepada Khadijah, "Ada apa denganku" dan beliaupun menceritakan kepadanya apa yang terjadi, "Aku mengkhawatirkan diriku."
Maka Khadijah berkata, "Sekali kali tidak! (Bergembiralah) demi Allah, Allah tidak akan membuatmu bersedih selamanya. (Maka demi Allah), sesungguhnya engkau orang yang menyambung tali persaudaraan (jujur dalam berkata), menanggung beban (suka membantu orang lain), mengusahakan orang yang tidak ada (tidak mampu), menyenangkan tamu, dan menolong para pembela kebenaran".
Kemudian Khadijah segera membawa beliau untuk menemui Waraqah bin Naufal bin Asad 'Abdul Al 'Uzza putra paman Khadijah (saudara laki laki ayahnya). Dia adalah seorang yang beragama nasrani pada masa jahiliyah. Dia menulis kitab berbahasa Ibrani. Dia menulis dari Injil berbahasa Ibrani yang dengan ijin Allah dia menulis luar biasa. Dia adalah seorang tua renta yang telah buta. Maka Khadijah berkata kepadanya, "Wahai putra pamanku, dengarlah dari putra saudara laki lakimu."
Lalu Waraqah berkata kepada beliau, "Wahai putra saudara laki lakiku, apa yang engkau lihat?"
Maka Rasulullah SAW menceritakan apa yang telah beliau lihat. Kemudian Waraqah berkata kepada beliau, "Itu adalah Namus yang dahulu Allah turunkan kepada Musa. Seandainya aku masih muda, dan seandainya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu kelak!"
Maka Rasulullah SAW berkata, "Mereka akan mengusirku?"
Waraqah berkata, "Ya. Tidak ada seorang laki lakipun yang datang dengan membawa apa yang engkau bawa, kecuali dia akan dimusuhi, kalau aku mendapati harimu itu, maka aku akan membelamu dengan sebenar benar pembelaan."
Tidak lama kemudian Waraqah pun meninggal dan terhentilah wahyu beberapa saat, (hingga Rasulullah SAW) dengan kesedihan yang sangat kuat dan berkali kali pergi hendak melemparkan diri dari puncak gungung. Maka apabila beliau mencapai puncak gunung untuk melemparkan diri, saat itulah Jibril menampakkan diri kepada beliau dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau adalah benar benar Rasul Allah." Maka dengan itu, tenanglah gejolak hati beliau, serta damailah jiwanya dan kemudian beliau pulang. Apabila keterputusan wahyu itu berselang lama, maka beliau pergi seperti itu, dan manakala telah mencapai puncak gunung Jibril menampakkan diri kepada beliau seperti itu pula." (HR. Bukhari)

*Namus adalah pemegang rahasia yang dia diberitahu tentang sesuatu rahasia dari orang lain.

Demikian hadits kisah pertama kali wahyu diturunkan. Semoga bisa menjadi refreshing atau penyegaran ingatan kita semua. Terimakasih dan kami akhiri Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel