Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Qur'an Per Kata Surat An-Nisā' Ayat 127-134

قُلِ اللّٰهُ

فِى النِّسَاۤءِۗ

وَيَسْتَفْتُوْنَكَ

katakanlah, Allah 

tentang perempuan

dan mereka meminta fatwa kepadamu

وَمَا يُتْلٰى

 ۙفِيْهِنَّ

يُفْتِيْكُمْ

 dan apa yang dibacakan 

tentang mereka

 memberi fatwa kepadamu 

فِيْ يَتٰمَى النِّسَاۤءِ

فِى الْكِتٰبِ

عَلَيْكُمْ

(juga memwaftwakan) tentang para perempuan yatim

 dalam Al-Qur’an 

kepadamu

مَا كُتِبَ لَهُنَّ

لَا تُؤْتُوْنَهُنَّ

الّٰتِيْ

sesuatu (maskawin) yang ditetapkan untuk mereka

 tidak kamu berikan 

 yang

وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ

اَنْ تَنْكِحُوْهُنَّ

وَتَرْغَبُوْنَ

 dan (tentang) mereka yang masih dipandang lemah

menikahi mereka

(sedang) kamu ingin 

لِلْيَتٰمٰى

وَاَنْ تَقُوْمُوْا

مِنَ الْوِلْدَانِۙ

 anak-anak yatim

 dan (Allah menyuruh kamu) agar mengurus 

dari anak-anak

مِنْ خَيْرٍ

وَمَا تَفْعَلُوْا

 ۗبِالْقِسْطِ

yang berupa kebajikan

dan apa pun yang kamu kerjakan

secara adil

عَلِيْمًا

كَانَ بِهٖ

فَاِنَّ اللّٰهَ

Maha Mengetahuinya

atas hal itu

sesungguhnya Allah 

Wa yastaftūnaka fin-nisā'(i), qulillāhu yuftīkum fīhinn(a), wa mā yutlā ‘alaikum fil-kitābi fī yatāman-nisā'il-lātī lā tu'tūnahunna mā kutiba lahunna wa targabūna an tankiḥūhunna wal-mustaḍ‘afīna minal-wildān(i), wa an taqūmū lil-yatāmā bil-qisṭ(i), wa mā taf‘alū min khairin fa innallāha kāna bihī ‘alīmā(n).
ayat 127. Mereka meminta fatwa kepada engkau (Nabi Muhammad) tentang perempuan. Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka,*) dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Qur’an tentang para perempuan yatim yang tidak kamu berikan sesuatu (maskawin) yang ditetapkan untuk mereka, sedangkan kamu ingin menikahi mereka,**) serta (tentang) anak-anak yang tidak berdaya. (Allah juga memberi fatwa kepadamu) untuk mengurus anak-anak yatim secara adil. Kebajikan apa pun yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

*) Lihat surah an-Nisā’ (4): 2‒3.
**) Menurut adat Arab Jahiliah, seorang wali berkuasa atas perempuan yatim yang dalam asuhannya dan berkuasa atas hartanya. Jika perempuan yatim itu cantik, wali akan menikahi dan menguasai hartanya. Jika perempuan yatim itu buruk rupanya, wali menghalanginya menikah dengan laki-laki lain agar dia tetap dapat menguasai hartanya. Ayat ini melarang kebiasaan itu.

 

مِنْۢ بَعْلِهَا

خَافَتْ

وَاِنِ امْرَاَةٌ

suaminya 

khawatir 

dan jika seorang perempuan 

فَلَا جُنَاحَ

اَوْ اِعْرَاضًا

نُشُوْزًا

maka tidak ada dosa

atau bersikap tidak acuh

akan nusyuz

بَيْنَهُمَا

اَنْ يُّصْلِحَا

عَلَيْهِمَآ

di antara keduanya 

dapat mengadakan perdamaian 

atas keduanya 

 ۗخَيْرٌ

وَالصُّلْحُ

 ۗصُلْحًا

lebih baik (bagi mereka)

dan perdamaian itu

(dengan) perdamaian yang sebenarnya

الشُّحَّۗ

وَاُحْضِرَتِ الْاَنْفُسُ

 kikir

walaupun jiwa itu menurut tabiatnya

فَاِنَّ اللّٰهَ

وَتَتَّقُوْا

وَاِنْ تُحْسِنُوْا

maka sungguh, Allah 

dan memelihara dirimu

dan jika kamu memperbaiki (pergaulan dengan istrimu) 

خَبِيْرًا

كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Maha Teliti 

terhadap apa yang kamu kerjakan

Wa inimra'atun khāfat mim ba‘lihā nusyūzan au i‘rāḍan falā junāḥa ‘alaihimā ay yuṣliḥā bainahumā ṣulḥā(n), waṣ-ṣulḥu khair(un), wa uḥḍiratil-anfususy-syuḥḥ(a), wa in tuḥsinū wa tattaqū fa innallāha kāna bimā ta‘malūna khabīrā(n).
ayat 128. Jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz*) atau bersikap tidak acuh, keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya.**) Perdamaian itu lebih baik (bagi mereka), walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.***) Jika kamu berbuat kebaikan dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tidak acuh) sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

*) Lihat arti nusyuz bagi pihak istri dalam catatan kaki surah an-Nisā’ (4): 34. Nusyuz dari pihak suami ialah bersikap keras terhadap istrinya, tidak mau menggaulinya, dan tidak mau memberikan haknya.
**) Contohnya, istri bersedia dikurangi beberapa haknya asal suami mau kembali berbaik-baik dengannya.
***) Sudah menjadi tabiat manusia untuk enggan melepaskan sebagian haknya kepada orang lain dengan seikhlas hatinya. Kendatipun demikian, jika istri melepaskan sebagian haknya, suami diperbolehkan menerimanya.

 

بَيْنَ النِّسَاۤءِ

اَنْ تَعْدِلُوْا

وَلَنْ تَسْتَطِيْعُوْٓا

di antara istri-istri(-mu) 

berlaku adil 

dan kamu tidak akan dapat 

فَتَذَرُوْهَا

فَلَا تَمِيْلُوْا كُلَّ الْمَيْلِ

وَلَوْ حَرَصْتُمْ

sehingga kamu biarkan yang lain

karena itu, janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) 

walaupun kamu sangat ingin (berbuat demikian)

وَتَتَّقُوْا

وَاِنْ تُصْلِحُوْا

 ۗكَالْمُعَلَّقَةِ

dan memelihara diri (dari kecurangan)

dan jika kamu mengadakan perbaikan

 terkatung-katung

رَّحِيْمًا

كَانَ غَفُوْرًا

فَاِنَّ اللّٰهَ

 Maha Penyayang

 Maha Pengampun

maka sungguh, Allah

          
Wa lan tastaṭī‘ū an ta‘dilū bainan-nisā'i wa lau ḥaraṣtum falā tamīlū kullal-maili fa tażarūhā kal-mu‘allaqah(ti), wa in tuṣliḥū wa tattaqū fa innallāha kāna gafūrar raḥīmā(n).
ayat 129. Kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(-mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Oleh karena itu, janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Jika kamu mengadakan islah (perbaikan) dan memelihara diri (dari kecurangan), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

كُلًّا

يُغْنِ اللّٰهُ

وَاِنْ يَّتَفَرَّقَا

 kepada masing-masing 

maka Allah akan memberi kecukupan

dan jika keduanya bercerai

وَكَانَ اللّٰهُ

مِّنْ سَعَتِهٖۗ

dan Allah

dari (karunia)-Nya

حَكِيْمًا

وَاسِعًا

Maha Bijaksana

 Maha Luas (karunia-Nya) 

Wa iy yatafarraqā yugnillāhu kullam min sa‘atih(ī), wa kānallāhu wāsi‘an ḥakīmā(n).
ayat 130. Jika keduanya bercerai, Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari keluasan (karunia)-Nya. Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.

 

مَا فِى السَّمٰوٰتِ

وَلِلّٰهِ

  apa yang ada di langit

dan milik Allahlah

الَّذِيْنَ

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا

وَمَا فِى الْاَرْضِۗ

 (kepada) orang yang 

dan sungguh, Kami telah memerintahkan


 dan apa yang ada di bumi

مِنْ قَبْلِكُمْ

الْكِتٰبَ

اُوْتُوا

sebelum kamu 

kitab suci 

diberi 

وَاِنْ تَكْفُرُوْا

 ۗاَنِ اتَّقُوا اللّٰهَ

وَاِيَّاكُمْ

(tetapi) jika kamu ingkar 

agar bertakwa kepada Allah

dan (juga) kepadamu

وَمَا فِى الْاَرْضِۗ

مَا فِى السَّمٰوٰتِ

فَاِنَّ لِلّٰهِ

 dan apa yang ada di bumi

apa yang ada di langit

maka (ketahuilah), milik Allahlah 

حَمِيْدًا

غَنِيًّا

وَكَانَ اللّٰهُ

Maha Terpuji

Mahakaya 

dan Allah 

Wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), wa laqad waṣṣainal-lażīna ūtul-kitāba min qablikum wa iyyākum anittaqullāh(a), wa in takfurū fa inna lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), wa kānallāhu ganiyyan ḥamīdā(n).
ayat 131. Hanya milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu (umat Islam) agar bertakwa kepada Allah. Akan tetapi, jika kamu kufur, maka sesungguhnya hanya milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

 

 ۗوَمَا فِى الْاَرْضِ

مَا فِى السَّمٰوٰتِ

وَلِلّٰهِ

dan apa yang ada di bumi

 apa yang ada di langit 

dan milik Allahlah

وَكِيْلًا

بِاللّٰهِ

وَكَفٰى

(sebagai) pemeliharanya

Allah 

.dan cukuplah 

Wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), wa kafā billāhi wakīlā(n).
ayat 132. Hanya milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pemelihara.

اَيُّهَا النَّاسُ

يُذْهِبْكُمْ

اِنْ يَّشَأْ

wahai manusia

niscaya Dia memusnahkan kamu semua 

kalau Allah menghendaki

بِاٰخَرِيْنَۗ

وَيَأْتِ

 (umat) yang lain (sebagai penggantimu)

kemudian Dia datangkan

قَدِيْرًا

عَلٰى ذٰلِكَ

وَكَانَ اللّٰهُ

Mahakuasa 

untuk berbuat demikian

dan Allah 

Iy yasya' yużhibkum ayyuhan-nāsu wa ya'ti bi'ākharīn(a), wa kānallāhu ‘alā żālika qadīrā(n).
ayat 133. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu semua wahai manusia, dan Dia datangkan (umat) yang lain (sebagai penggantimu). Allah Maha Kuasa berbuat demikian.

ثَوَابَ الدُّنْيَا

كَانَ يُرِيْدُ

مَنْ

 pahala di dunia

 menghendaki

 barangsiapa 

 ۗوَالْاٰخِرَةِ

ثَوَابُ الدُّنْيَا

فَعِنْدَ اللّٰهِ

dan akhirat

ada pahala dunia 

maka ketahuilah bahwa di sisi Allah 

 ࣖبَصِيْرًا

سَمِيْعًاۢ

وَكَانَ اللّٰهُ

Maha Melihat

 Maha Mendengar

dan Allah

Man kāna yurīdu ṡawābad-dun-yā fa ‘indallāhi ṡawābud-dun-yā wal-ākhirah(ti), wa kānallāhu samī‘am baṣīrā(n).
ayat 134. Siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.