Di sebuah hutan yang hijau dan subur, mengalir sungai jernih yang menjadi rumah bagi berbagai hewan, termasuk seekor kepiting kecil dan ibunya. Suatu pagi yang cerah, Kepiting Kecil bermain-main di pinggir sungai sambil memunguti kerikil-kerikil indah.
Tiba-tiba, dari atas pohon, seekor monyet melompat turun. Monyet ini dikenal sebagai hewan yang cerdik, tapi sering juga nakal dan licik.
Monyet Cerdik: "Hai, Kepiting! Sedang apa kamu di sini?"
Kepiting Kecil: "Halo, Monyet! Aku sedang mencari kerikil cantik. Ibu bilang kerikil yang bagus bisa menghias rumah kami."
Monyet Cerdik: "Wah, kebetulan sekali. Aku tahu tempat yang penuh buah mangga manis dan besar. Tapi aku tak bisa mengambilnya sendiri. Bagaimana kalau kita pergi bersama dan berbagi hasilnya?"
Kepiting Kecil (senang dan polos): "Wah, tentu saja! Aku akan bantu semampuku."
Mereka pun pergi ke hutan sebelah, di mana terdapat pohon mangga yang rindang dan penuh buah. Monyet dengan mudah memanjat ke atas dan mulai memetik buah mangga.
Kepiting Kecil: "Ayo, Monyet! Lemparkan buahnya ke bawah! Aku tak sabar mencicipinya."
Monyet Cerdik (makan sendiri sambil tertawa kecil): "Hmm... enak sekali! Tapi buahnya terlalu empuk untuk kamu, Kepiting. Kamu tidak bisa mengunyahnya seperti aku."
Kepiting Kecil (kecewa): "Tapi kan kita sepakat untuk berbagi..."
Monyet Cerdik (menggoda): "Ah, kamu terlalu lambat. Aku yang naik, aku yang dapat! Hahaha!
Kepiting Kecil (menahan tangis): "Itu tidak adil...
Kepiting Pulang dan Menyusun Rencana
Kepiting kecil pulang dengan sedih dan menceritakan semuanya kepada Ibu Kepiting.
Ibu Kepiting: "Kamu telah dikhianati, Nak. Tapi kita tidak boleh membalas dengan kejahatan. Kita akan ajarkan dia pelajaran dengan cara yang cerdik juga."
Mereka lalu memanggil Burung Pipit, sahabat keluarga mereka, untuk membantu membuat rencana.
Burung Pipit: "Aku tahu cara memancing Monyet datang lagi. Kalian siapkan saja perangkap."
Rencana Balas Dendam yang Cerdik
Keesokan harinya, Burung Pipit terbang ke atas pohon tempat Monyet biasa duduk dan bernyanyi:
Burung Pipit (bersiul dan bernyanyi keras): "Buah mangga yang paling manis… ada di tepi sungai… hanya yang sopan yang bisa mencicipi…"
Monyet Cerdik (penasaran): "Buah mangga manis? Di mana itu?"
Burung Pipit: "Ikut aku ke tepi sungai. Tapi jangan curang lagi ya!"
Monyet pun mengikuti Burung Pipit ke tepi sungai, di mana Ibu Kepiting dan Kepiting Kecil telah menyiapkan perangkap daun dan lumpur licin.
Begitu Monyet melangkah ke tempat yang licin...
Monyet Cerdik: "Eh? Waaah!"
(Tergelincir dan jatuh ke sungai)
Dari balik batu, muncul seekor Buaya Tua.
Buaya Tua: "Apa kau yang suka menipu hewan kecil di hutan ini?"
Monyet Cerdik (ketakutan): "Tidak! Aku hanya... hanya... ya ampun! Maaf! Aku tak akan mengulanginya!"
Kepiting Kecil: "Kamu sudah memakan semua mangga sendiri. Kami hanya ingin keadilan."
Monyet Cerdik (menyesal): "Aku minta maaf... sungguh. Aku akan memetikkan mangga untukmu nanti dan membagi sama rata."
Penyesalan dan Persahabatan
Akhirnya, Monyet pun menepati janjinya. Ia membawa beberapa buah mangga yang segar dan manis, lalu membaginya dengan Kepiting Kecil dan ibunya.
Monyet Cerdik: "Aku sadar, tidak menyenangkan jika dimanfaatkan. Terima kasih sudah memberiku pelajaran."
Kepiting Kecil: "Aku maafkan kamu. Tapi lain kali, jangan curang lagi ya."
Ibu Kepiting: "Persahabatan harus dibangun di atas kejujuran."
Burung Pipit (tertawa kecil): "Syukurlah, sekarang kalian bisa makan mangga bersama."
Dan sejak saat itu, Monyet Cerdik tak lagi licik, dan ia benar-benar menjadi teman yang baik bagi Kepiting Kecil.
sumber willowbabyshop.com

No comments